Hilang. Aku usik keberadaanya yang musnah tanpa pamit padaku.
Samasekali tak bersisa. Aku hanya terpekur dan sesekali bernafas berat. Sesak. Ku fikir ini hanya mimpi buruk yang tak nyata. Seliweran seperti rasa kantuk.
Adakah kau yang disana mengingat betapa banyak goresan yang ku buat di lubuk hidupmu?
Ataukah sekali saja kau tengok aku sebagai pemilik kehidupanmu di berjuta abad kelak?
Sunyi senyap.
Baru beberapa jam lamanya aku memegangmu di jantungku, kini kau lenyap.
Memudar. Tak pernah kau tinggalkan asa yang bingar.
Mana catatanku yang lainnya? Ku cari berpeluh keringat namun aku masih tetap linglung. Tak dapat meneruskan pencarianku bahkan jika itu hanya seujung timun.
Kesanggupanku berhenti ketika aku menemukan lembar baru yang siap menampung segala kerinduanku.. Segala kemunafikanku. Segala kekhawatiranku.
Dan aku akan mati. Esok hari.
Surabaya, 29 November
Rumah Keluarga tercinta di ruang tamu yang hangat meredam...
Selasa, 29 November 2011
ABANG
Hingarnya malam itu kian menjadi.
Aku tersudut di pojokan kamar pribadiku, sesengguk. Mengais isi dalam jiwa ini.
Kerontang, bahkan tak layak disebut nurani.
Sembari mengelap buih yang sengaja ku jatuhkan. Aku mungkin akan mengeluarkanya lagi sebutir dua butir bila perlu. Tapi aku tertelan jaraknya rindu.
Ah, apa yang ku coret ini? Ungkapan kasih atau hanya caci maki diri?
Abang,
Beberapa bulan yang lalu aku mengenalmu. Mencoba mencari tahu siapa sosok yang tak sengaja ku kenal di lorong waktu semu. Menelaah kembali apa maksud kehadiranmu di aturan nafasku. Semuanya bergejolak. Aku entah dirimu yang memulai robekan kisah pahit atau sedikit tak manis ini.
Benar" aneh.
Tiba" secara cepat menjalar asap diatas perbukitan usia.
Jauh. Saat aku tengah menengadah tangan, kau datang membawa sekantong bunga harum yang akan layu.
Tak lama. Pasti akan mati.
Belum ku usaikan mimpi ini, belum.
Ku beri jeda agar ku mampu menghirup aroma tubuhmu, disiang dan malamku nanti.
Surabaya, 29 November 2011
Aku tersudut di pojokan kamar pribadiku, sesengguk. Mengais isi dalam jiwa ini.
Kerontang, bahkan tak layak disebut nurani.
Sembari mengelap buih yang sengaja ku jatuhkan. Aku mungkin akan mengeluarkanya lagi sebutir dua butir bila perlu. Tapi aku tertelan jaraknya rindu.
Ah, apa yang ku coret ini? Ungkapan kasih atau hanya caci maki diri?
Abang,
Beberapa bulan yang lalu aku mengenalmu. Mencoba mencari tahu siapa sosok yang tak sengaja ku kenal di lorong waktu semu. Menelaah kembali apa maksud kehadiranmu di aturan nafasku. Semuanya bergejolak. Aku entah dirimu yang memulai robekan kisah pahit atau sedikit tak manis ini.
Benar" aneh.
Tiba" secara cepat menjalar asap diatas perbukitan usia.
Jauh. Saat aku tengah menengadah tangan, kau datang membawa sekantong bunga harum yang akan layu.
Tak lama. Pasti akan mati.
Belum ku usaikan mimpi ini, belum.
Ku beri jeda agar ku mampu menghirup aroma tubuhmu, disiang dan malamku nanti.
Surabaya, 29 November 2011
Awalan yang (mungkin) Baik
Sejenak,
Aku melirik ke sebuah akun menarik yang berantai. Sedikit terinspirasi diriku olehnya, tapi aku tertegun.
Bukan karena aku tak mampu lagi membacanya, tetapi malu menghampiriku seraya terbahak.
Aku ringkih.
Tersudut menanti hati yang telah mati.
Suatu ketika aku melihat bulu daun yang terkesibak angin.
Semilir... Hingga ujungnya menghilang ditelan bibir lautan. Aku tak tau mengapa.
Yang ku tau hanya jejak musnahnya.
Entah.
Atau ini yang ku sebut derita?
Kembali memukau kala ku baca tiap larik kata di dalam akun tadi.
Hanya sekelumit yang dapat ku hisap pengertiannya, namun aku tersedak ketika menghirup maknanya!
Kemarin aku membuat sebuah pernyataan fantastis, yang aku pun tak mengerti maksudku ini.
Perlahan ku buka lagi lembar demi lembar usang,
Ku eja per hurufnya dengan kedunguanku!
Dan inilah, aku kembali menggilitik tangan dan otakku.
Aku menuangkannya disini, bersamaan dengan waktu...
Surabaya, 00.03 WIB
Aku melirik ke sebuah akun menarik yang berantai. Sedikit terinspirasi diriku olehnya, tapi aku tertegun.
Bukan karena aku tak mampu lagi membacanya, tetapi malu menghampiriku seraya terbahak.
Aku ringkih.
Tersudut menanti hati yang telah mati.
Suatu ketika aku melihat bulu daun yang terkesibak angin.
Semilir... Hingga ujungnya menghilang ditelan bibir lautan. Aku tak tau mengapa.
Yang ku tau hanya jejak musnahnya.
Entah.
Atau ini yang ku sebut derita?
Kembali memukau kala ku baca tiap larik kata di dalam akun tadi.
Hanya sekelumit yang dapat ku hisap pengertiannya, namun aku tersedak ketika menghirup maknanya!
Kemarin aku membuat sebuah pernyataan fantastis, yang aku pun tak mengerti maksudku ini.
Perlahan ku buka lagi lembar demi lembar usang,
Ku eja per hurufnya dengan kedunguanku!
Dan inilah, aku kembali menggilitik tangan dan otakku.
Aku menuangkannya disini, bersamaan dengan waktu...
Surabaya, 00.03 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)